Berwisata di kota Bandung dan Belanja di Factory Outlet (FO)

Pada abad milenium sekarang ini, Bandung tidak lagi hanya menyandang predikat sebagai kota kembang atau ”Parijs van Java” melainkan kota jasa atau wisata belanja. Warga Kota Bandung memang terbilang sangat dinamis. Dengan rentang waktu perjalanannya yang sudah sekian abad, Bandung kini terus mengalami berbagai perubahan yang sangat signifikan. Belakangan bahkan muncul sebutan baru buat Bandung, yakni sebagai Kota Factory Outlet (FO), Kota Kafe, dan Kota Macet hehehehe…..

Kenapa dijuluki Kota Factory Outlet? Karena hampir di semua ruang dalam kota dapat mudah dijumpai toko-toko yang menjual pakaian sisa ekspor berkualitas dunia dengan ragam model yang sangat eksklusif. Yang semua itu dihasilkan dari keterampilan tangan orang Bandung. Kehadiran Factory Outlet ini membuat nama Bandung kian melejit di mata wisatawan baik dalam dan luar negeri.

Bisnis garmen ini terkesan tidak pernah ada surutnya, kendati pihak Pemerintah Kota Bandung seringkali memperingatkan para pemodal untuk tidak ”semau gue” membuka usaha di tempat-tempat yang tidak sesuai peruntukannya. Artinya, para pengusaha dengan bebas membuka Factory Outlet di mana saja asalkan dianggap potensial olehnya tanpa memikirkan dasar kelayakan tata ruang kota. Setiap ada Factory Outlet, ada kemacetan arus lalu-lintas kendaraan.

Factory Outlet yang telah ada sejak tiga hingga empat tahun belakangan ini memang menjadi idola atau daya pikat bagi pendatang dari luar Kota Bandung. Pasalnya, hanya dengan modal kecil mereka bisa membeli berbagai jenis dan merrk pakaian dengan harga relatif murah. Pokoknya, Bandung bisa dibilang sebagai kota alternatif utama bagi pendatang khususnya warga Jakarta yang hendak menghabiskan waktu akhir pekan atau hari-hari libur. Biasanya, mereka bersama anggota keluarga karuan saja, di hampir sudut kota Bandung selalu macet bahkan bisa disebut kota paling macet di dunia.

Ada indikasi Factory Outlet kini sudah mengalahkan kepopuleran pasar sepatu Cibaduyut atau pusat jeans Cihampelas yang selama ini menjadi trade mark–nya Bandung sejak dulu. Apalagi bicara soal makanan, dalam perkembangan sekarang ini, Bandung ternyata sudah jauh melesat daripada Jakarta. Di hampir semua bentang jalan Kota Bandung, kini juga sudah berdiri ratusan bahkan ribuan kafe dengan berbagai macam menu yang beragam, mulai dari kelas lokal, nusantara, sampai kelas dunia.

Anak muda Bandung yang suka gaul dan gemar nongkrong di kafe-kafe (siang maupun malam), menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik. Ada sebutan lagi untuk Bandung sebagai tempat makanan enak, tapi murah. Sayang, berbagai predikat positif yang disandang Bandung kini mulai tercemar dengan sikap, perilaku, dan budaya warga yang nyaris tidak peduli dengan lingkungannya. Sampah terlihat berserakan di mana-mana, membuat pemandangan kota menjadi kumuh. Hampir semua ruas jalan kota penuh dengan lubang sehingga muncullah satu sebutan Bandung sebagai kota ”lubang”.

Kota Bandung padahal dibangun pada zaman Belanda dulu bukan sebagai kota industri dan perdagangan melainkan sebagai kota peristirahatan, sehingga pertumbuhan jumlah kendaraan yang begitu pesat amat sulit diatasi. Untuk mengatasi masalah krusial ini, berbagai upaya telah dilakukan pihak Pemerintah Kota Bandung di antaranya dengan membangun prasarana jalan layang Paspati (Pasteur-Surapati) yang membentang persis di atas Kota Bandung yang kini sedang dalam proses pengerjaan.

Asumsinya, ribuan kendaraan yang masuk dari tol Pasteur dari arah Jakarta bisa langsung bisa masuk kota tanpa hambatan. Jalan layang Paspati Upaya lain adalah penataan kawasan wisata dan pendidikan Jalan Tamansari yang direncanakan selesai pada akhir 2003 merupakan upaya pengembangan jaringan jalan penghubung poros barat ke timur di wilayah bagian utara Kota Bandung yang tidak melalui pusat.

Kemudian penataan kawasan Bandung Utara yang belakangan ini menjadi primadona karena pemadangan alamya sangat menakjubkan mulai jalan Siliwangi sekitar kampus ITB juga terus dibenahi.
Di Babakan Siliwangi sudah dibangun fasilitas-fasilitas penunjang yang mengarah Bandung sebagai kota metropolitan, misalnya Gedung Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), kolam renang pusat-pusat belanja modern.
Dalam perkembangan, Bandung Utara yang sekaligus menjadi paru-paru kota sudah mulai ditata dengan menertiban bangunan-bangunan liar, penanaman kembali pohon-pohon lindung yang sudah rusak pembangunan fasilitas rekreasi seperti Puncrut, Dago Atas. dan lain sebagainya. Semua tadi dapat dengan mudah ditemui di Kota Bandung yang memiliki moto ”genah, merenah tur tumaninah” ini.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: